Kamis, 15 Desember 2011

Banjir di Jakarta, Penyebab Serta (Sedikit) Saran Mengatasinya

Dengan banyaknya pengalaman menghadapi bencana banjir bertahun-tahun, di mana hal tersebut juga sudah terjadi pada zaman penjajahan Belanda yang ditandai dengan sudah dibangunnya Banjir Kanal Barat (BKB) dan adanya rencana pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) oleh pemerintah Belanda,  beberapa kesimpulan sebagai penyebabnya sudah terdeteksi.  Sepertinya, semua penyebab banjir tersebut sudah diketahui, sehingga selama ini selalu menjadi fokus perhatian semua fphak untuk berusaha mengatasinya.
Namun, di luar semua penyebab yang sepertinya sudah diketahui  tersebut, masih tertinggal penyebab mendasar lain yang tidak bisa diabaikan perannya karena menjadi faktor penyulit dalam usaha mengatasi banjir. Sayangnya selama ini hal tersebut belum pernah tersentuh sebagai bagian penting dari upaya untuk mengatasi banjir.
Dalam tulisan kami ini, untuk memberikan gambaran menyeluruh, secara singkat kami kemukakan “semua” penyebab banjir yang sudah kita ketahui bersama, untuk kemudian kami tambah lagi dengan adanya penyebab lain/baru yang selama ini belum pernah diperankan, padahal merupakan faktor penyulit penting yang ikut menentukan dalam usaha mengatasi banjir kota Jakarta, sehingga peranannya tidak bisa diabaikan, atau mungkin malah harus menjadi fokus perhatian utama juga.
  1. Penyebab banjir yang sudah diketahui.
1.      Sudah saling difahami bahwa bencana banjir Jakarta adalah akibat dari adanya banjir kiriman dari Bogor melalui 13 sungai yang membelahnya. Berlimpahnya air melalui 13 sungai tersebut juga sudah difahami, yaitu karena adanya penggundulan hutan yang terjadi di hulu sungai di wilayah Bogor di Selatan Jakarta.
2.      Belum selesainya pembangunan BKT karena sulitnya pembebasan tanah.
3.      Kondisi tersebut di atas diperparah oleh :
a)   Terjadinya penyempitan profil sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) dikarenakan banyaknya gubug-gubug liar yang menjorok ke arah dalam profil sungai.
b)   Belum tuntasnya pelebaran profil sungai dengan pembongkaran gubug-gubug liar di sepanjang DAS tersebut di atas.
c)    Adanya pembuangan sampah sembarangan oleh penduduk yang tidak disiplin.
d)   Terjadinya tambahan hujan lokal yang cukup deras.
e)   Tertutupnya lobang-lobang/saluran-saluran drainage kota.
f)    Sudah kurang sesuainya lagi demensi ukuran gorong-gorong dan atau saluran kota yang sudah tidak seimbang lagi dengan kebutuhan kota.
g)   Ketidak sesuaian kemiringan saluran drainage kota dikarenakan sudah berubahnya secara tak terkendali kemiringan permukaan tanah Jkt.
h)    Sebagian wilayah DKI Jakarta berada di bawah muka air laut.
i)   Adanya tambahan pasang naik air laut maupun banjir ROB.
Sudah bertahun-tahun Pemda DKI Jakarta berusaha mengatasi “semua” penyebab banjir tersebut di atas, namun usaha tersebut hasilnya belum pernah memuaskan kita semua karena banyaknya kendala yang belum bisa diatasi tuntas, terutamanya adalah menyangkut masalah biaya yang sangat terbatas.
B.     Penyebab banjir lain (“baru”) yang belum diperankan.
Untuk memahami masalah penyebab banjir yang lain (“baru”), yang selama ini belum pernah tersentuh peranannya sebagai faktor/alat/sarana untuk ikut menanggulangi bencana banjir Jakarta, perlu ditinjau keadaan Jakarta dalam kurun waktu usia Master Plan DKI Jakarta yang dimulai sejak tahun 1965 sampai saat ini, sebagai berikut :
1.    Seandainya semua penyebab banjir tersebut pada butir A di atas pada akhirnya bisa diatasi, yang pasti juga sudah akan mengurangi banjir secara signifikan, tetapi dalam menghadapi hujan dalam kota sendiri, tampaknya kota Jakarta tetap akan selalu kewalahan menghadapi banjir, contohnya adalah yang sering terjadi setiap ada hujan dalam kota, padahal tidak ada banjir kiriman dari Bogor.
2.    Banjir jenis ini yang penyebabnya adalah hujan dalam kota akan tetap sulit ditanggulangi sepanjang tetap ada timbun-menimbun yang dilakukan para developer yang sepertinya tidak terkendali, ditambah peninggian jalan yang dilakukan secara tambal sulam oleh pemerintah sendiri demi mengatasi banjir pada ruas jalan tertentu yang menimbulkan banjir di tempat lain. Jadi, usaha menyelesaikan masalah tetapi menimbulkan masalah di tempat lain.
3.    Para developer yang menimbun suatu lokasi/kawasan dan tentu juga yang memberikan ijin penimbunan (maaf!), sepertinya “tidak peduli” dengan dampak terjadinya banjir pada lokasi lain yang keberadaannya lalu menjadi lebih rendah.
4.      Proses timbun-menimbun suatu kawasan/lokasi akan terus terjadi sepanjang ijin penimbunan terus diberikan oleh pemerintah, dan hal tersebut sulit dicegah bila pemerintah tidak memiliki landasan peraturan daerah yang orientasi penyusunannya berlandaskan pada teknik perencanaan kota berwawasan tiga demensi dengan memperhatikan peta kontur, sehingga bila peraturan daerah itu telah dimiliki maka tanpa ragu pemerintah bisa memberikan ijin atau menolaknya dengan tegas dan mantap.
5.    Jadi, peraturan daerah yang antara lain akan berperan sebagai pengendali terkait dengan timbun-menimbun suatu lokasi/kawasan, hanya bisa disusun bila didasarkan pada peta garis tinggi (kontur) yang dikombinasikan dengan peta dasar dua demensi.
C.     Saran langkah yang sebaiknya ditempuh.
Memperbaiki suatu perencanaan kota yang sudah direalisasikan di lapangan bertahun-tahun sejak awal Masterplan tahun 1965 tentu sangat sulit, namun karena masalah penggunaan peta dasar yang lengkap itu sangat mendasar, suka atau tidak suka sebaiknya dimulai secara bertahap, sedangkan tahapan-tahapan yang kami usulkan adalah sebagai berikut :
1.      Membuat Rencana Induk Ketinggian Muka Tanah (RIKMT).
a.   Tahap – I : Membuat peta garis tinggi/kontur keadaan Jakarta saat ini, yang mencantumkan kenyataan peil permukaan tanah Jakarta, dengan pemotretan indera jauh satelit / foto udara.
b.   Tahap – II : Menerbitkan SK Gubernur yang menetapkan status quo kea-  daan lapangan selama sedang dilakukan perencanaan Rencana Induk Ketinggian Muka Tanah Jakarta (RIKMT). Jadi, selama pembuatan RIKMT tidak diijinkan untuk melakukan timbun-mrnimbun suatu lokasi/kawasan.
c.   Tahap – III : Membuat konsep RIKMT bersama para ahli multi disiplin ilmu, lalu disosialisasikan kepada masyarakat umum maupun professional untuk memperoleh masukan penyempurnaan.
d.   Tahap – IV : Konsep RIKMT dijadikan Perda sesuai prosedur yang berlaku.

2.      Pengaruh RIKMT terhadap Masterplan eksisting.
Terhadap Masterplan Jakarta yang sudah berbentuk Perda selama ini, seyogyany di review lagi dengan RIKMT sedemikina rupa sehingga hasilnya bisa memberikan solusi yang lebih tepat atas berbagai masalah yang timbul terkait berbagai aspek, termasuk relevansinya dengan masalah banjir.
3.      Membuat Rencana Induk Saluran Drainage & Air Kotor (RISD&AK).
Dengan mendasarkannya pada RIKMT tersebut di atas bisa dibuat RISD&AK  dengan lebih mudah, karena semua rencana ketinggian muka tanah sudah ditetapkan, dan perencana kota tinggal menghitung perkiraan debit air di masing-masing jaringan saluran yang relevan posisinya, sehingga demensi/ukuran saluran juga bisa direncanakan dengan baik, sedangkan arah aliran berpola pada ketinggian muka tanah di mana data-data ketinggiannya sudah dicantumkan dalam RIKMT.
4.      Tim Penyusun Rencana-Rencana Induk.
Untuk menyusun rencana-rencana induk dan review masterplan yang ada tersebut di atas, disarankan dilakukan oleh suatu Tim Ahli multi disiplin, terdiri dari berbagai disiplin ilmu yang bisa memberikan kontribusi wawasan berbagai ilmu perkotaan, yaitu para City Planners dengan latar belakang pendidikan berbagai macam ilmu mikro yang relevan setelah minimal memperoleh pendidikan tambahan Pasca Sarjana di bidang City Planning (S-2), antara lain Architect Planners, Civil Engineer Planners, Traffic Engineer Planners, Geologist Planners, Economics Planners, Geotechnical Planners, Demography Planners, Legal Planners, Industrial Planners, Regional Planners, Earthquake Engineering Planners, dan sebagainya.
Mengingat Jakarta sedang akan membangun sub-way untuk transportasi massal, ada baiknya bila juga dilengkapi dengan keahlian Tunnel Enginering Planners.
Regional Planners perlu dilibatkan karena Jakarta berkait dengan Jadebotabek.
Nara sumber : Ir.Suharto Prodjowijono, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar